Minggu, April 28

Bulan dan Bintang

"Waktu terus berjalan. Aku masih saja berdiri diam disini dengan tanya yang belum terjawab. Sampai kapan? Entahlah. Aku menunggu sebuah kepastian."

"Kenapa harus menunggu, Bulan? Jemputlah! Katakanlah apa yang ingin kamu tanyakan! Percepatlah kamu dapatkan jawabannya! Bukankah menunggu adalah ketidak pastian?"

"Malam, Bintang. Senang kamu memerhatikanku. Aku ragu, Bintang. Keingintahuanku sama besarnya dengan ketakutanku. Beri tahu aku, Bintang! Perasaan semacam apa ini?"

"Aku juga tak tahu, Bulan. Sebut saja 'Perasaan Tak Bernama'. Legakan keingintahuanmu! Hadapilah ketakutanmu! Dan sempurnakanlah kembali kecantikanmu dengan senyumanmu!

"Ah, selalu saja kamu yang memancing senyumku. Kenapa harus selalu kamu juga yang hadir disaat kantuk menyapaku?"

"Karena senyum itulah yang menjadi jawaban atas segala rinduku. Senyummulah yang mengundangku dalam bias bayang mimpimu."

"Kamu penat di kepalaku sekaligus redam dalam teriakku. Ah, kamu menyayatku ketika kamu memujiku."

"Aku semakin terjungkal dalam rasa kekagumanku akan keindahan kata yang kamu ucap. Kata-katamu bagaikan nyawa kehidupanku, nafas yang memberikan arti di tiap langkah perjalananku."

"Mengagumimu bukanlah bahagiaku. Mengagumimu adalah luka bagiku. Karena mengagumimu membuatku ingin mendapatkanmu. Sementara mendapatkanmu seperti aku mencoba menangkap angin. Begitu sulit."

"Kenapa harus begitu? Katamu, aku telah memenuhi ruang hati dan kepalamu. Katamu, hadirku adalah warna dalam mimpimu, cahaya di gelap dan sepimu. Pejamkan matamu! Bentangkan tanganmu! Rasakan sejuk yang mengaliri tubuhmu! Mungkin begitulah caranya menangkap angin."

"Aku membenci diriku yang tak mampu membencimu. Rasa benciku terhenti di batas 'aku butuh kamu'. Aku telah mengalami ketergantungan akan bisikan kata-katamu."

"Separah itukah aku? Lidahmulah yang menarik lidahku untuk menyemburkan jutaan kata yang aku sendiri tak mampu mengendalikannya. Pesonamu adalah karya berupa sajak kata yang mewujud."

"Cukup, Bintang! Aku ingin menghapus jejak kenangan yang terekam dalam ingatan. Aku ingin memundurkan waktu di titik saat aku menemukan ':)'. Sebaiknya dulu aku mengabaikannya saja."

"Apa sebenarnya yang terjadi, Bulan? Mengapa kamu jadi seperti ini? Kamu seperti menyesali perkenalan tanpa jabat tangan kita. Apa yang salah dariku? Katakanlah! Bulan, aku minta maaf."

"Kamu begitu pandai melambungkan perasaan. Tapi kenapa hatimu tak peka membaca rasa?"

"Kepalaku seperti dihantam batu besar. Aku bingung. Kalau kamu tak mau memberitahu apa salahku padamu. Harus dengan siapa lagi aku bertanya?"

"Kupejam mata mendengarkan kata hatiku. Dia bertanya 'sampai kapan lagi kau menanti?'. Berbicaralah dengan hatimu!"

"Hati dan kepalaku terlalu sesak dengan tanya. Aku tak sanggup mengajak mereka berpikir lagi. Ternyata kegundahanmulah yang mencekikku, sehingga aku tak mampu bernafas karenanya. Gelisah hatimu seolah memotong lidahku, aku tak dapat berkata-kata lagi."

"Hadirmu di hariku, walau hanya di dunia semesta, namun telah mempermainkan rasaku. Sekarang aku butuh kepastianmu, Bintang. Kita ini apa?"

"Kamu adalah Bulan. Sementara aku Bintang yang terus berjalan. Biarlah kita, waktu yang tentukan."

"Itu tidak lucu, Bintang. Kenapa kamu selalu menyerahkan segalanya pada waktu? Kita bukan waktu. Kita ini apa?"

"Kita adalah orang yang hidup di bawah langit cinta, berpijak pada kasih. Kita berjalan diantaranya. Ada kenangan di belakang kita, ada mimpi dan harapan di depan kita. Kita bersahabat dengan waktu, melangkah bersama doa."

"Itu bukan jawaban. Aku butuh kepastian. Kita ini apa, Bintang?"

"Jangan berpura-pura tak mengerti, Bintang. Kita ini apa?"

"Bintang, kita ini apa?"

"Kita ini apaaaaa? :'("

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar