Kamis, Mei 30

Curhat Sama Tuhan

tuhann…
selamat pagi. aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah?
ataukah mungkin sekarang sedang turun salju? pasti indah. 
kalau boleh berbincang sedikit, 
aku belum pernah melihat salju. mungkin, kalau sudah cukup dewasa dan menghasilkan uang sendiri, 
aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kapalaku sendiri.

aku tahu kamu tak pernah sibuk. 
aku tahu kamu selalu mendengar isi hatiku meskipun kamu tak segera memberi pukpuk di bahuku. aku tak perlu curiga padamu, soal kamu mendengar do’aku atau tidak. 
aku percaya telingamu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padamu.
aku yakin pelukanmu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya mengigil.
aku mengerti tanganmu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah.


masih tentang hal yang sama tuhan,
aku belum ingin mengganti topik. 
tentang seseorang yang selalu kuperbincangkan sangat lama bersamamu.
seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang dengan mu.
aku sudah tahu, 
perpisahan yang kau ciptakan adalah sesuatu yang terbaik untukku. aku mengerti kalau kamu sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. 
tapi … aku bukan berarti harus absen menyebut namanya dalam do’aku bukan?


nah… 
kalau yang ini, aku juga sudah tahu. dia sudah menemukan penggantiku, 
entah baik atau lebih buruk dariku.
atas alasan apapun, aku harus tetap bahagia mendengar berita itu,
karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhir ini. 
seiring mendapatkan penggantiku, 
ia tak perlu merasa galau ataupun kehilangan. 
sungguh… aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan tuhan. 
aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering di dadaku. 
aku hanya ingin kebahagiaanya terjamin olehmu, dengan atau tanpa aku.

tolong kali ini jangan tertawa tuhan. 
aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat. 
apalagi ketika dia menemukan penggantiku hanya dalam hitungan hari.
aku memang tak habis fikir, padahal aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. bukannya ingin berfikiran negatif, 
tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. 
ia berganti-ganti peran sesukanya. 


sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. 
aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukan padaku,
tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.
bagaimana hubungannya dengan kekasih barunya. aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu.
aku yakin dia pasti bahagia, karena begitu mudah mendapatkan penggantiku.

aku percaya dia sedang dalam titik jatuh cinta pada kekasih barunya, dan tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan nafasnya. 
permintaan yang sama seperti kemarin tuhan. jagalah kebahagiaanya untuku. bahagiakan dia untukku. 
senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. 
bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. 
aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padamu. 
aku memang tak menyentuhnya. 
tapi…dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam do’a.


pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala sakit yang pernah aku rasa. agar aku tak pernah merasa kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah perpisahan.
rasanya hidup tak terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. 
namun aku tahu hidup tak bisa seperti itu tuhan.
harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. 
tapi bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang telah terjadi. 
itu dalam persepsiku loh tuhan. 
kalau pendapatmu aku salah menilai aku minta maaf

aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. 
ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. 
aku turut senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal tuhan. 
aku tak pernah ingin dia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang kurasakan.

akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera putus dari kekasihnya, atau hubungan mereka segera kandas ditengah jalan. aku hanya minta agar ia bisa menjanjikan setia bukan hanya sekedar omongan untuk penggantiku, agar kekasihnya tak merasakan hal yang sama yang seperti aku rasakan.
semoga kekasihnya melakukan hal yang sama.


kembali pada bagian awal. aku hanya ingin dia bahagia dan selalu tersenyum.
itu udah lebih dari cukup :')

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar