Kamis, Mei 30

Salah Menanam Harapan

akhirnya, aku sampai di tahap ini. 
posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan.
aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. 
kukira langkahku sudah benar. kupikir anggapanku adalah segalanya. 
aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih,
meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu.


aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya.
hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan.
mungkin, ini berlebihan. 

tentu saja kamu pikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku,
kamu tak merasakan sesaknya menjadi aku.
Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu,
mungkin aku tak akan pernah mengenalmu sampai sejauh ini. 
jika aku sudah cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal.
aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. 


bukankah ketika jatuh cinta,
setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis?
aku pernah merasakan fase itu. aku juga manusia biasa. kuharap kamu memahami dan menyadari.
aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku.
aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya berbentuk tulisan.
aku mencintaimu. 
sungguh, mengetahui kamu tak berharap lagi adalah hal paling sulit yang bisa kumengerti. 
aku masih belum mengerti. mengapa semua berakhir sesakit ini? 
aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu?
tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu.


jika kamu ingin tahu, aku kesesakan dalam hubungan yang menyedihkan itu. 
aku terkatung-katung sendirian,
meminum asam dan garam, 
membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. 
begitu banyak yang kulakukan, 
mengapa matamu masih belum terbuka dan hatimu tidak terbuka lagi untuk aku?


sejak dulu, seharusnya tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. 
sejak pertama bertemu, harusnya tak perlu kucari kontakmu dan kuhubungi kamu dengan begitu lugu. 
sejak tahu kehadiranmu, seharusnya aku tak menggubris. 
aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. 
jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya sakit seperti ini.


iya aku bodoh, puas?

semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir.
ini bukan akhir yang kupilih. 
seandainya aku bisa memilih cerita akhir, 
aku hanya ingin mendekapmu, sehingga kamu tahu, 
aku disini selalu rindu ketika mendengar namamu :')

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar